NTB

Soroti Pergeseran Nilai Adat, KBMPRATIM Ajak Generasi Muda Lestarikan Nyongkolan

×

Soroti Pergeseran Nilai Adat, KBMPRATIM Ajak Generasi Muda Lestarikan Nyongkolan

Sebarkan artikel ini
Soroti Pergeseran Nilai Adat, KBMPRATIM Ajak Generasi Muda Lestarikan Nyongkolan
Istimewa

Misterius.co.id – Keluarga Besar Mahasiswa Praya Timur (KBMPRATIM) menyampaikan pernyataan sikap terkait pelestarian nilai budaya Nyongkolan sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Suku Sasak. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk keprihatinan terhadap sejumlah fenomena yang dinilai berpotensi menggeser nilai, makna, dan filosofi yang terkandung dalam prosesi adat tersebut.

Dalam pernyataannya, KBMPRATIM menegaskan bahwa Nyongkolan merupakan warisan luhur leluhur Suku Sasak yang mengandung nilai-nilai solah, apik, santun, serta gotong royong. Menurut mereka, berbagai unsur dalam prosesi Nyongkolan, mulai dari busana adat, iring-iringan hingga tata cara pelaksanaannya, bukan sekadar simbol seremonial, melainkan bagian dari identitas dan kehormatan masyarakat Sasak.

KBMPRATIM mencermati adanya dua persoalan utama yang dinilai mencederai nilai-nilai Nyongkolan. Pertama, terjadinya pergeseran simbol adat yang ditandai dengan munculnya praktik penggunaan busana kebaya oleh pria sebagai pendamping pengantin. Organisasi tersebut menilai praktik tersebut tidak sesuai dengan pakem adat yang selama ini dijaga oleh masyarakat Sasak.

Selain itu, mereka juga menyoroti dampak era modernisasi dan digitalisasi yang mendorong sebagian pihak melakukan berbagai tindakan di luar ketentuan adat demi mengejar popularitas dan perhatian di media sosial.

Menurut KBMPRATIM, fenomena tersebut berpotensi mengikis identitas budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Mereka menilai Nyongkolan yang semestinya menjadi prosesi sakral dapat kehilangan makna apabila lebih dipandang sebagai tontonan daripada sarana pelestarian nilai budaya.

Atas dasar itu, KBMPRATIM menyatakan sikap dengan menolak segala bentuk penyimpangan dalam pelaksanaan Nyongkolan yang dianggap bertentangan dengan nilai, simbol, dan busana adat Sasak. Organisasi tersebut juga mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial tanpa mengorbankan identitas budaya yang dimiliki.

BACA JUGA  Janji Beasiswa Luar APBD Dipertanyakan, Mahasiswa NTB Tuntut Kepastian

Selain itu, KBMPRATIM mendesak pemerintah daerah, dinas yang membidangi kebudayaan, serta lembaga adat Sasak untuk segera merumuskan panduan baku mengenai tata cara dan busana Nyongkolan. Mereka juga meminta adanya pengawasan dan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat guna menjaga kelestarian tradisi tersebut.

Sebagai bentuk komitmen nyata, KBMPRATIM menyatakan siap menjadi pelopor gerakan “Nyongkolan Beradab” melalui berbagai kegiatan sosialisasi kepada masyarakat dan generasi muda agar semakin memahami pentingnya menjaga budaya sebagai bagian dari harga diri dan identitas masyarakat Sasak.

Sementara itu, Dewan Pembina Organisasi KBMPRATIM, M. Rizqi Adiarta, menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan era digital tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan jati diri budaya.

Menurutnya, budaya harus tetap dijaga meskipun masyarakat terus bergerak menuju kemajuan. Ia mengajak seluruh kader, alumni, mahasiswa, serta masyarakat Praya Timur dan masyarakat Sasak secara umum untuk turut menjaga marwah budaya agar tetap asli, murni, dan berwibawa.

KBMPRATIM berharap pernyataan sikap tersebut dapat menjadi pengingat bersama bahwa kemajuan dan modernisasi dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Mereka menegaskan bahwa menjaga Nyongkolan berarti menjaga identitas, kehormatan, dan warisan budaya Suku Sasak bagi generasi mendatang.