UIN RIL

UIN RIL Gandeng Undip, Riset Organisme Kecil Ini Bisa Ubah Cara Menilai Terumbu Karang

×

UIN RIL Gandeng Undip, Riset Organisme Kecil Ini Bisa Ubah Cara Menilai Terumbu Karang

Sebarkan artikel ini
UIN RIL Gandeng Undip, Riset Organisme Kecil Ini Bisa Ubah Cara Menilai Terumbu Karang
Tim peneliti UIN Raden Intan Lampung memaparkan standar operasional pengambilan dan pengelolaan sampel penelitian dalam rapat koordinasi daring bersama mitra Universitas Diponegoro sebagai bagian dari persiapan riset rehabilitasi terumbu karang berbasis bioindikator Polychaeta. Foto: Ist

Misterius.co.id – Di balik megahnya hamparan terumbu karang, ternyata ada organisme kecil yang menyimpan banyak informasi tentang kesehatan ekosistem laut. Organisme bernama Polychaeta ini kini menjadi fokus penelitian kolaboratif Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (UIN RIL) bersama Universitas Diponegoro (Undip).

Kolaborasi tersebut bukan tanpa alasan. Undip dipilih sebagai mitra strategis karena memiliki fasilitas laboratorium kelautan dan lingkungan yang mampu mendukung analisis sampel, penguatan data ekologis, hingga pengembangan biomonitoring ekosistem laut secara lebih mendalam.

Melalui penelitian ini, tim peneliti mencoba menghadirkan pendekatan baru dalam mengevaluasi keberhasilan rehabilitasi terumbu karang buatan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih banyak mengukur kondisi fisik atau tutupan karang, riset ini justru memanfaatkan struktur komunitas Polychaeta sebagai bioindikator utama.

Organisme bentik tersebut dikenal sangat sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan laut. Keberadaan, keanekaragaman, hingga jumlah populasinya diyakini mampu menggambarkan kondisi ekosistem secara lebih akurat, baik berdasarkan lokasi maupun perubahan dari waktu ke waktu.

Penelitian dilakukan di dua kawasan rehabilitasi terumbu karang yang memiliki karakteristik berbeda, yakni Pulau Pahawang, Lampung, dan Karimunjawa. Perbedaan kondisi di kedua lokasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai pengaruh usia, struktur, serta kondisi terumbu karang buatan terhadap perkembangan komunitas Polychaeta.

“Penelitian ini memiliki kebaruan pada pengembangan model evaluasi ekologis berbasis bioindikator bentik. Dalam riset ini, Polychaeta digunakan sebagai parameter utama untuk menilai keberhasilan rehabilitasi terumbu karang secara temporal,” ujar Prof. Nirva.

Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan mampu melengkapi metode evaluasi yang selama ini masih didominasi penilaian visual terhadap kondisi terumbu karang.

Melalui pendekatan multilokus dan analisis spasial-temporal, hasil penelitian diharapkan mampu menghadirkan model pemantauan ekosistem laut yang lebih akurat, berkelanjutan, dan dapat diterapkan dalam berbagai program konservasi di Indonesia.

BACA JUGA  UIN Raden Intan Lampung Dirikan Posko Masjid Ramah Pemudik di Masjid Raya Airan

Tak hanya menargetkan publikasi ilmiah, riset kolaboratif ini juga diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah, akademisi, pengelola kawasan pesisir, hingga para pemerhati lingkungan dalam menyusun strategi pemulihan ekosistem laut berbasis data ekologis.

Keberhasilan memperoleh pendanaan riset nasional tersebut sekaligus menjadi bukti komitmen UIN RIL dalam memperluas jejaring penelitian, memperkuat kolaborasi antarinstitusi, serta menghadirkan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi pelestarian lingkungan pesisir dan laut Indonesia.